Sejarah Desa Bancak Kab. Semarang

01 Januari 2022
Admin Desa
Dibaca 5.303 Kali
Sejarah Desa Bancak Kab. Semarang

Sejarah dan Asal-Usul Desa Bancak

Desa Bancak memiliki sejarah dan asal-usul yang berkembang berdasarkan cerita turun-temurun di tengah masyarakat. Menurut kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, pada zaman dahulu wilayah yang sekarang menjadi Desa Bancak masih berupa hutan belantara. Pada masa tersebut, datang dua orang yang belum diketahui asal-usulnya untuk membuka hutan atau babat alas. Mereka membuka kawasan hutan yang kemudian dikenal dengan nama Hutan Bogo dan Hutan Kuncen.

Nama Bogo dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai “bukakan”, sedangkan Kuncen memiliki arti “kunci”. Perpaduan kedua istilah tersebut kemudian dimaknai sebagai “kunci pertama dibuka”, yang dilambangkan dengan Bogo dan Kuncen. Untuk melestarikan sejarah dan nama tersebut, masyarakat kemudian mengenal dua tempat pemakaman yang disebut Makam Bogo dan Makam Kuncen.

Setelah membuka kawasan tersebut, kedua orang tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke arah utara. Mereka tiba di suatu wilayah yang saat ini dikenal sebagai Dusun Gentho. Berdasarkan cerita masyarakat, nama Gentho berasal dari kondisi wilayah tersebut pada masa lalu yang dipercaya menjadi tempat persembunyian orang-orang jahat dan pencuri. Dalam bahasa Jawa, orang jahat atau pencuri sering disebut sebagai gentho.

Di wilayah tersebut, kedua orang yang membuka hutan tadi kemudian terlibat perselisihan pendapat dengan kelompok gentho yang tinggal atau bersembunyi di kawasan tersebut. Masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya sehingga tidak tercapai kesepakatan maupun persamaan pandangan. Perselisihan tersebut akhirnya mendorong kedua orang tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat.

Dalam perjalanan, mereka kemudian bertemu dengan dua orang lainnya yang juga belum diketahui asal-usulnya. Pertemuan tersebut menjadi titik penting karena kedua orang yang baru ditemui kemudian membantu mendamaikan pihak-pihak yang sebelumnya berbeda pendapat. Setelah melalui proses berembug dan bermusyawarah, akhirnya kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan dan menyatukan pendapat.

Sebagai ungkapan rasa syukur atas tercapainya perdamaian dan persatuan, masyarakat kemudian mengadakan acara encengan atau slametan yang diisi dengan berbagai hidangan makanan. Dalam acara tersebut juga dilaksanakan tradisi Gendhong Ancak, yaitu kegiatan membuat miniatur atau bentuk tertentu dari berbagai bahan sebagai bagian dari kemeriahan acara.

Tradisi Ancakan atau Gendhong Ancak kemudian berkembang menjadi salah satu tradisi masyarakat yang dilaksanakan setiap tahun, terutama setelah musim panen. Tradisi tersebut juga dikenal sebagai Merti Dusun, yaitu bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus sebagai sarana untuk mempererat hubungan sosial dan kebersamaan antarwarga.

Merti Dusun biasanya dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada hari Selasa Pahing. Tradisi Ancakan atau Gendhong Ancak yang terus dilestarikan oleh masyarakat tersebut kemudian diyakini memiliki keterkaitan dengan lahirnya nama Desa Bancak.

Dengan demikian, berdasarkan cerita yang berkembang secara turun-temurun, nama Desa Bancak tidak hanya berkaitan dengan sebuah nama wilayah, tetapi juga mengandung nilai sejarah, kebersamaan, musyawarah, perdamaian, serta rasa syukur masyarakat. Tradisi Ancakan atau Gendhong Ancak menjadi salah satu warisan budaya yang hingga kini tetap dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas masyarakat Desa Bancak.